Pendahuluan
Salah satu dari begitu banyak tanda-tanda (ayat) kekuasaan Allah di dalam Alquran seperti tentang penciptaan langit, bumi, malam, siang dan penciptaan manusia itu sendiri adalah ayat Allah tentang perkawinan. Allah menjadikan perkawinan sebagai salah satu tanda-tanda kebesaranNya sebagaimana yang tercantum di dalam al Quran surat ar-Rum ayat 21: “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan- pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”.
Dalam ayat tersebut Allah mengatakan salah satu tanda kekuasaanNya adalah menciptakan manusia berpasang-pasangan supaya mereka menjadi tenteram berkasih-sayang. Allah menjadikan perkawinan sebagai suatu sarana yang menyatukan dua manusia laki dan perempuan untuk membentuk rumah tangga yang bahagia. Cita-cita ini sejalan dengan pasal 1 Undang-Undang nomor
1 tahun 1974 tentang perkawinan, yang menyatakan perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.
Sebuah perkawinan atau rumah tangga memang idealnya menjadi tempat paling aman dan tenteram di seluruh muka bumi bagi semua anggota yang ada di dalamnya. Keluarga menjadi tempat paling nyaman bagi suami yang baru bekerja seharian penuh banting tulang mencari nafkah di luar rumah, juga menjadi tempat menenangkan dari hiruk pikuknya kesibukan duniawi yang melelahkan dan menjemukan. Rumah tangga idealnya menjadi shelter untuk menyejukkan hati yang gundah bagi semua anggota keluarga.
Bagi seorang isteri rumah tangga menjadi tempat menyemaikan kasih sayang seorang ibu yang tidak terkira bagi anak-anak dan suami. Besarnya kelembutan dan kasih sayang seorang ibu dan isteri dari anak-anak menjadi obat yang mujarrab penawar rasa kecewa dan kesedihan akibat pergaulan di dunia luar. Dekapan seorang ibu mejadi penyejuk hati anak-anak. Bagi seorang anak, keluarga dan rumah tangga juga menjadi tempat menempa diri menjadi manusia yang terdidik dan soleh untuk menjalani masa depan.
Karena itu benarlah jika Allah menyatakan bahwa ikatan perkawinan adalah mitsaqon ghaliza. Ikatan perjanjian yang sangat luar biasa. Kalau bom tidak bisa menggoyangkan arasy tuhan tapi perceraian bisa menggoyahkannya. Karena perceraian meskipun halal tetap dibenci Allah. Perceraian bisa menghapus semua kebaikan yang ada dalam sebuah perkawinan. Menghapuskan sakinah dan mawaddah rahmah. Allah berfirman QS. Annisa 21: “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri- isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (mitsaqan gholidho).”
Lembaga Perkawinan Era Media Sosial
Sosial media adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Sosial media meghapus batasan- batasan manusia untuk bersosialisasi, batasan ruang maupun waktu, dengan media sosial ini manusia dimungkinkan untuk berkomunikasi satu sama lain dimanapun mereka berada dan kapanpun, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, dan tidak peduli siang atau pun malam.
Sosial media memiliki dampak besar pada kehidupan kita saat ini. Seseorang yang asalnya “kecil” bisa seketika menjadi besar dengan Media sosial, begitupun sebaliknya orang “besar” dalam sedetik bisa menjadi “kecil” dengan
Media sosial.1 Media sosial yang trens saat ini facebook, twitter, whatapp, instagram, line dan lain sebagainya. Mari kita lihat kondisi perkawinan di zaman yang sarat dengan teknologi atau media sosial. Perkawinan saat ini menjadi tak lagi begitu sakral, perceraian bukan sesuatu yang tabu lagi bahkan menjadi cara menaikkan popularitas seseorang. Perkawinan tidak lagi sesakral seperti orang tua kita dahulu yang memelihara dan menjaganya agar tetap utuh. Sebesar apapun gelombang di laut perkawinan tetap utuh. Perceraian membuat rasa malu atau aib yang besar bagi semua anggota keluarga bahkan sekampung ikut malu.
Kebaikan-kebaikan yang ada di dalam rumah tangga saat ini semakin memudar karena semua anggota keluarga mencari kebahagiaannya sendiri- sendiri di luar. Suami menjadi tidak betah berlama-lama di rumah dan lebih memilih kumpul bersama kawan-kawan menjadi hobbi sehari-hari dari pada menjadi teladan mengimami kehidupan di rumah tangga. Para Suami banyak terkena penyakit “suka selingkuh” dan tidak bertanggung jawab soal nafkah apalagi sekarang akibat media sosial Ini mulai dari facebook, sms, whatapp, bbm, dan lain sebagainya telah menjadi kawan akrab setiap saat. Masing- masing anggota keluarga lebih sering ngobrol di media sosial dari pada dengan isteri dan anak anak. Membawa smartphone kemana saja bukan karena hal penting seperti untuk meningkatkan pengetahuan dan keimanan tetapi untuk senantiasa terkoneksi, bisa chatting atau ngobrol yang tak jelas manfaatnya kecuali hanya untuk senda gurau semata.
Sebelum teknologi informasi seperti sekarang antara anggota keluarga banyak saling berbicara dan bertatap muka, ada kontak fisik hingga ikatan kasih sayang benar-benar terasa indah. Tetapi sekarang akibat teknologi handphone, smartphone, tablet dan lain sebagainya semakin memudarkan komunikasi antara keluarga. Bertemu saudara atau orang-orang yang dikasihi tidak sepenting dulu cukup bertemu melalui sms, Whatapp, bbm apalagi bisa video call. Smartphone telah menjadi segalanya, dimana saja, kapan saja senantiasa dalam genggaman kecuali kalo lagi mandi atau ke toilet. Bahkan di tempat-tempat ibadah, acara ibadah sekalipun ada sebagian orang yang tetap asyik berchatting tanpa menghiraukan orang lain. Mungkin ini gejala permisif memudahkan dan menggampangkan semua sehingga etika dan tata krama, adat istiadat menjadi luntur karena terkontaminasi dengan budaya hidup modern. Para ibu rumah tangga juga demam dengan sinetron india yang menghanyutkan sehingga banyak ibu menghabiskn waktu di depan televisi sambil berchatting ria melalui fb atau medsos lainnya dari pada mengawasi dan memantau perkembangan anak-anak. Akibatnya Para ibu rumah tangga miskin akan pengetahuan.
Pengadilan Agama telah menjadi saksi mata berapa banyak masalah rumah tangga menjadi hancur berawal dari kesalahpahaman akibat sms, koment atau foto instagram, whatapp atau facebook. Berapa banyak isteri atau suami mendapatkan laki-laki atau wanita idaman lain akibat banyak berchatting melalui FB, Whatapp dan medsos lainnya sehingga akhirnya menimbulkan pertengkaran yang berujung pada perceraian. Terkadang berawal dari kesalahpahaman dan kecemburuan akibat sms masuk yang terbaca oleh pasangan dan akhirnya menimbulkan pertengkaran yang dalam.
Anak-anak sekarang lebih suka ber-medsos dengan teman-temannya dari pada berkomunikasi dengan orang tua dan saudara sedarah di dalam rumah tangga. Makan bersama tidak menjadi media untuk saling bercerita bertukar fikiran berbagi pengalaman dan kepedulian kecuali masing-masing memegang HP terbaru untuk berchatting riya dengan teman-teman di medsos. Teknologi terutama HP (handphone) telah menjauhkan hati sesama anggota keluarga sebaliknya mendekatkan anggota keluarga dengan orang-orang yang tidak dikenal. Komunikasi intensif antara anggota keluarga telah memudar. Komunikasi hanya sekedar untuk dapat dikatakan tidak bicara sama sekali. Komunikasi tidak membangun kasih sayang yang erat antar anggota keluarga sebaliknya justru mengeratkannya kepada orang lain. Hal ini berbahaya untuk masa depan sebuah keluarga jika sudah tidak ada lagi ikatan batin yang kuat antara anggota keluarga yang di dalamnya. Teknologi telah menjauhkan hati sesama anggota keluarga. Rumah tangga miskin akan ketentraman dan kasih
sayang yang dalam dari orang tua. Sudah cukup banyak contoh kejahatan perselingkuhan yang bermula dari kenalan melalui facebook dan medsos
lainnya. Rapuhnya ikatan antar anggota keluarga sangat rentan menimbulkan ketidak harmonisan dan mudahnya masuk pengaruh yang tidak baik bagi perkembangan jiwa anggota keluarga. Komunikasi yang lemah ini sangat tidak baik bagi perkembangan keluarga modern di masa depan. Merebaknya teknologi handphone tidak hanya merusak ikatan anggota keluarga di daerah perkotaan tapi sudah merambat jauh ke desa-desa dan kampung yang dulu sangat miskin dengan teknologi informasi. Hal ini akan menjadi bom waktu dan sekarang telah mulai kita rasakan dampaknya dengan banyaknya kejadian pelecehan seksual , narkoba, kebebasan seksual bagi remaja tindakan kekerasan pada anak dan lain sebagainya. Antara suami isteri rentan terjadi perceraian. Perceraian di Indonesia cukup mengkhawatirkan.2 Pasalnya, Indonesia menempati angka tertinggi se-Asia Pasifik soal permasalahan tersebut. Anak- anak telah menjadi korban akibat perceraian orang tua, korban kekerasan seksual, menjadi korban teknologi seperti gadget, televisi handphone dan narkoba. Banyaknya perceraian menjadi indikasi lemahnya lembaga perkawinan, pasangan yang muda ataupun tua tetap rawan perceraian. Kemuliaan lembaga perkawinan semakin memudar. Lemahnya lembaga perkawinan telah mengundang banyak problem bagi anggota keluarga. Salah satu nya adalah tingginya tingkat pelecehan seksual dan kekerasan pada anak- anak. Anak-anak menjadi target kejahatan justru bukan orang jauh tetapi menjadi mangsa oleh orang-orang terdekatnya bisa keluarga, teman, tetangga, kakak kelas bahkan orang tua sendiri dan lain-lain. Sangat memprihatinkan. Keluarga tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Korban sudah cukup banyak berjatuhan bahkan menimbulkan kematian. Menurut data Komnas Perempuan beberapa daerah sangat rentan akan kekerasan seksual pada anak salah satunya adalah Aceh yang notabene wilayah penegakan Syariat Islam kemudian disusul dengan Jawa Timur dan Jawa Barat.3 Kekerasan seksual telah menjadi problem nasional. Kasus yang menyeramkan adalah siswi SMP yang diperkosa rame-rame oleh anak remaja hingga membunuh siswi tersebut.
Anak anak telah menjadi korban rapuhnya lembaga perkawinan. Para orang tua yang lebih mementingkan egoisme pribadi, anak menjadi korban kekerasan seksual, korban teknologi informasi karena banyak anak-anak tidak terkontrol dalam penggunaan teknologi bermain games tanpa batas waktu, warnet penuh dengan anak-anak sampai larut malam seakan tidak ada yang peduli, anak-anak juga menjadi sasaran narkoba. Semua problem ini akibat terbesar karena rapuhnya perkawinan orang dewasa. Rumah tangga atau lembaga perkawinan tidak mampu mengkawal perkembangan anak-anak dengan baik di masa depan. Jika ini dibiarkan akan menjadi bom waktu melahirkan generasi yang lemah dan sangat lemah yang hanya pandai bergadget, bermain game, komputer dengan berchatting ria, facebook-an dan lain sebagainya.
Penutup
Para orang tua sudah waktunya berfikir dan mempersiapkan diri dengan baik terutama pengetahuan yang cukup untuk menjadikan generasi dan keturunan yang kuat. Mengkawal dengan ketat semua anggota keluarga terutama dalam penggunaan Media Sosial untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Selain itu sangat diharapkan peran pemerintah untuk mengawasi warnet. Berawal dari menciptakan rumah tangga sakinah mawadddah wa rohmah adalah modal awal membangun masa depan bangsa dan anggota keluarga yang ada di dalamnya. Rumah tangga yang sangat dirindukan oleh masing-masing anggota keluarga. Wassalam wallahu a’lam. @ZL


